Minggu, 07 Maret 2010

TEORI-TEORI KONSISTENSI KOGNITIF

بسم الله الرّحمان الرّحيم
OLEH: DODI SETIADI
TEORI-TEORI KONSISTENSI KOGNITIF
Teori-teori konsistensi kognitif berpangkal pada suatu proposisi umum yaitu bahwa kognisi (pengetahuan, kesadaran) yang tidak konsisten dengan kognisi-kognisi lain, maka akan menimbulkan keadaan psikologik yang tidak menyenangkan, sehingga keadaan ini mendorong seseorang untuk mencapai konsistensi antar kognisi-kognisi tersebut. Ketika konsistensi antar kognisi-kognisi tercapai, maka akan timbul rasa senang dalam dirinya. Tanpa kita sadari, ternyata inkonsistensi kognitif ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan lebih dari itu kita pun pernah melakukannya. Sebagai salah satu contohnya: kita melihat seorang menteri sedang makan di warung nasi di pinggir jalanan. Sebelum kita melihat kejadian ini, kita memiliki pengetahuan bahwa menteri itu adalah sosok orang yang royal dan mewah. Ketika kita melihat seorang menteri yang sedang makan di warung nasi tersebut, maka kita pun merasa aneh karena pada umumnya orang yang makan di warung nasi itu adalah golongan masyarakat kelas bawah. Jelas di sini terdapat dua kognisi yang berbeda, yaitu sosok menteri yang royal dan mewah dengan warung nasi yang sering disinggahi oleh golongan masyarakat kelas bawah. Jika kedua kognisi ini muncul secara sekaligus, maka muncul perasaan inkonsistensi dalam diri kita, yang menyebabkan kita perlu melakukan sesuatu agar muncul konsistensi yang menyenangkan. Misalnya: melihat orang itu sekali lagi untuk meyakinkan bahwa dia sesungguhnya bukan menteri (orang lain yang mirip dengan menteri), atau dengan cara mengubah struktur kognitif dengan menyatakan kepada diri sendiri bahwa menteri adalah manusia juga yang sekali-kali ingin santai makan di warung.
Hubungan inkonsistensi anatara kognisi-kognisi memiliki istilah atau nama yang berbeda-beda, tetapi merujuk pada satu subtansi yang sama. Heider (1946) menamakannya dengan istilah ketidakseimbangan kognitif (cognitive imbalance). Newcomb (1953) menamakannya dengan istilah asimetri (asimetry). Osgood dan Tannembaum (1955) menamakannya dengan istilah ketidakselarasan (ingcongruence), sedangkan Festinger (1957) menamakannya dengan istilah disonansi (dissonance). Teori Osgood dan Tannembaum (ingcongruence) terbatas penggunaannya dalam situasi tertentu, sedangkan yang paling luas penggunaannya adalah teori Festinger (dissonance).

1. Teori P-O-X
Teori ini berpangkal pada perasaan-perasaan yang ada pada seseorang (P) terhadap orang lain (O) dan hal yang lain (X) yang ada kaitannya dengan O, X dalam hal ini tidak hanya berupa benda mati , tetapi bias berupa orang lain. Ketiga hal ini (P, O, X) membentuk suatu unit atau kesatuan. Jika unit itu memiliki sifat yang sama dalam semua seginya, maka muncullah keadaan seimbang (balance) dan tidak ada dorongan untuk berubah. Tetapi jika unit itu memiliki segi-segi yang berbeda, maka terjadilah ketegangan (tension) dan muncullah tekanan yang mendorong untuk mengubah struktur kognitif sedemikian rupa, hingga pada akhirnya muncul keadaan seimbang.

1.1 Hubungan antara P, O, dan X
Menurut Heider ada dua jenis hubungan dalam sistem P, O, dan X:
a. Hubungan unit yang terdiri dari:
-Tipe U
-Tipe bukan U
b. Hubungan sentiment
-Positif (L)
-Negatif (DL)
Hubungan unit tipe U terjadi jika dua unsur dipandang sebagai dua unsure yang saling memiliki. Hubungan unit tipe bukan U (not U) terjadi jika unsure-unsur itu tidak saling memiliki. Contoh: Jika P menyukai O dan tidak menyukai X, maka persoalan keseimbangan tidak akan muncul selama O dan X dipandang sebagai hal-hal yang terpisah satu sama lain. Tetapi jika hubungan O dan X saling memiliki (hubungan positif), maka muncullah perasaan seimbang dalam struktur kognitif P. Sebaliknya, jika O dan X saling berhubungan tetapi tidak saling memiliki (hubungan negatif), maka muncullah perasaan tidak seimbang dalam struktur kognitif P.
Pembentukan hubungan unit menurut Heider sebagian terbesar dipengaruhi oleh prinsip-prinsip persepsi dari Psikologi Gestalt seperti: kesamaan, kedekatan, kelangsungan, set, dan pengalaman masa lalu. Misalnya: dua anjing berjalan bersama akan lebih cenderung dipersepsikan sebagai satu unit (saling memiliki) daripada jika dua ekor gajah berjalan kea rah yang berlawanan. Dengan demikian, maka dalam hubungan antar manusia, seseorang akan cenderung dipandang sebagai satu unit dengan orang lain yang sekebangsaan, seagama, sekeluarga, dan sebagainya.
Hubungan sentimen dalam pihak lain adalah penilaian seseorang terhadap sesuatu. Hubungan sentimen ini ditandai dengan menyukai, memuja, menyetujui, menolak, tidak mencela, mengejek, dan sebagainya. Jika penilaian itu positif, maka simbolnya adalah L, sedangkan jika penilaian itu negative, maka simbolnya adalah DL.

1.2 Keadaan Seimbang dan Tidak Seimbang
Keadaan seimbang menurut Heider adalah suatu keadaan di mana unsur-unsur saling berhubungan satu sama lain secara harmonis dan tidak ada tekanan untuk berubah. Dalam hubungan dua pihak (dyads) keadaan seimbang terjadi jika hubungan-hubungan antar kedua unsur itu semua positif atau semua negatif. Dalam hubungan tiga pihak (triads) keadaan seimbang terjadi jika ketiga hubungan positif atau dua negatif dan satu positif. Jika ketiga hubungan negatif, maka situasinya meragukan (Perhatikan: semua situasi dilihat dari sudut P; keadaan seimbang atau tidak seimbang adalah pada sistem kognisi P).
Contoh:
Hubungan dua pihak:
-P memiliki X dan P menyukai X, terjadi keadaan seimbang (kedua hubungan positif).
-P memiliki X (hubungan positif), tetapi P tidak menyukai X (hubungan negatif), terjadi keadaan tidak seimbang.
Hubungan tiga pihak:
-P menyukai O (hubungan L) dan P menyukai X (hubungan L), sedangkan O menghasilkan X (hubungan U), maka terjadilah keadaan seimbang. Karena ketiga hubungan positif.
-P tidak menyukai O maupun X (hubungan DL/negatif), sedangkan O menghasilkan X (hubungan U/positif), maka keadaan juga seimbang, karena ada hubungan dua negatif dan satu positif.
-Jika P menyukai O (hubungan L) padahal ia tak menyukai X (hubungan DL), dan X adalah hasil dari O (hubungan U), maka keadaan tidak seimbang.

1.2 Konsekuensi-konsekuensi dari Kecenderungan Menuju Keseimbangan
a. Keadaan seimbang (balanced) pada umumnya lebih disukai daripada keadaan tidak seimbang (imbalanced), walaupun kadang-kadang keadaan tidak seimbang itu juga menyenangkan (misalnya: menonton sulap, lawak, memecahkan teka-teki).
b. Keadaan seimbang menyebabkan P menginduksikan hubungan-hubungan lain. Misalnya:
-P cenderung tidak menyukai orang-orang yang berbeda dari dirinya sendiri; P tidak menyukai O, ini berarti induksi: O tidak sama dengan P.
-P berhubungan dengan O, induksinya: P menyukai O.
-P menyukai O, induksinya: P akan berhubungan dengan O
-P memiliki X, artinya; P menyukai X
c. Keadaan tidak seimbang akan menimbulkan usaha untuk mengubah hubungan-hubungan kognitif, baik hubungan unit maupun hubungan sentimen. Dalam kasus hubungan segitiga (triads) yang terdir dari sebuah hubungan DL, sebuah hubungan L dan sebuah hubungan U. Keadaan seimbang dapat dicapai dengan mengubah hubungan DL ke L, L ke DL, atau U ke bukan U. Misalnya: Amir melihat lukisan yang disukainya (hubungan L), tetapi kemudian ia mengetahui bahwa pelukisnya (hubungan U) adalah Parman yang dibencinya (DL). Keputusan Amir selanjutnya adalah salah satu dari kemungkinan-kemungkinan berikut:
-Amir menganggap bahwa lukisan itu sebenarnya tidak bagus sama sekali (L ke DL).
-Amir menganggap bahwa Parman sebenarnya orang yang baik juga (DL ke L).
-Amir mengganggap bahwa mungkin Parman hanya mengaku-ngaku pelukis. Pelukis sebenarnya bukan Parman (U ke bukan U).
Selain ketiga cara di atas, cara lain menuju keadaan seimbang dapat diusahakan dengan mendiferensiasikan (memecah-mecah) Parman (O) ke dalam beberapa bagian. Sebagian menyenangkan (parman sebagai pelukis) dan sebagian tidak menyenangkan (Parman sebagai teman).

2. Sistem A-B-X
Hipotesa umum yang diajukan Newcomb (1937, 1957) adalah bahwa hukum-hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap yang ada pada seseorang. Beberapa kombinasi kepercayaan dan sikap yang tidak stabil, maka akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, sehingga kepercayaan dan sikap itu berada dalam keadaan stabil. Sampai di sini teori Newcomb tidak berbeda dengan teori P-O-X Heider. Akan tetapi Newcomb menambahkan faktor komunikasi antar individu dan hubungan-hubungan dalam kelompok. Komunikasilah yang menjadikan orang untuk saling berorientasi terhadap suatu objek tertentu.


2.1 Definisi-definisi
a. Tindak komunikatif (communicative act), yaitu pemindahan informasi dari sumber kepada penerima. Informasi terdir dari berbagai rangsangan yang diasosiasikan dengan benda, keadaan, sifat atau peristiwa yang memungkinkan seseorang membedakannya dari hal-hal lain. Tindakan komunikatif yang paling sederhana adalah seseorang (A) menyampaikan informasi kepada (B) tentang sesuatu (X). Ia menyimbolkan hal ini sebagai A ke B tentang X.
b. Orientasi, yaitu kebiasaan seseorang (baik kognitif maupun kateksis/cathexis) untuk selalu mengaitkan diri sendiri dengan orang lain atau objek di sekitar dirinya. Orientasi ini dapat disamakan dengan “sikap” akan tetapi Newcomb membedakan dua macam orientasi, yaitu atraksi (attraction) dan sikap (attitude) sendiri. Atraksi adalah orientasi terhadap orang lain, sedangkan sikap adalah orientasi terhadap objek.
c. Koorientasi atau orientasi simultan, yaitu saling ketergantungan antara situasi A terhadap B dan terhadap X. Misalnya A berorientasi kepada B dan juga berorientasi kepada X. Ketika situasi itu A mengetahui bahwa B juga memiliki orientasi kepada X. Maka orientasi itu saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam diri A dikatakan sudah tersusun sistem A-B-X.
d. Arus sistem (system strain) atau arus menuju simetri, yaitu suatu ketegangan psikologik yang disebabkan oleh perbedaan orientasi antara diri sendiri (A) dengan orang lain (B) dan antara diri (A) dengan hal yang lain (X). Ketegangan ini dapat juga disebabkan oleh adanya keraguan A tentang orientasi B terhadap X. Kadar arus sistem sangat dipengaruhi oleh:
-kadar perbedaan orientasi yang dipersepsi.
-tanda (positif atau negatif) dan derajat dari atraksi.
-Pentingnya objek komunikasi.
-kepastian tentang orientasi yang ada pada diri sendiri.
-relevansi dari objek yang dikenai orientasi.

2.2 Sistem Orientasi
Menurut Newcomb ada dua macam sistem orientasi, yaitu:
-sistem individual (dalam diri sendiri).
-sistem kelompok (menyangkut hubungan-hubungan antar individu).
Kedua sistem di atas minimalnya memerlukan komponen-komponen sebagai berikut:
1) Sikap A terhadap X
2) Atraksi A terhadap B
3) Sikap B terhadap X
4) Atraksi B terhadap A
Newcomb membedakan dua macam sikap, yaitu menyukai (favourable) dan tidak menyukai (unfavourable), begitu juga atraksi dibagi menjadi dua, yaitu positif dan negatif.
Dengan demikian A dan B bisa mempunyai orientasi:
-yang sama terhadap X (keduanya menyukai atau keduanya tidak menyukai).
-yang berbeda terhadap X (yang satu menyukai, yang lain tidak menyukai).
Jika orientasi A ke B atau B ke A sama, maka akan terjadi keadaan simetris. Begitu juga bila orientasi A ke X sama dengan orientasi B ke X, maka akan terjadi keadaan simetris juga. Tetapi jika tidak, maka terjadilah keadaan asimetris.
Sistem individual di atas adalah yang dipersepsikan oleh diri A sendiri. Misalnya: sikap A terhadap X adalah menyukai dan A tertarik kepada B (atraksi: positif) dan A mempersepsikan bahwa sikap B terhadap X adalah tidak menyukai, maka hubungan itu asimetris. Ketika keadaan ini terjadi, maka akan ada desakan dari diri A menuju keadaan simetris. Sedangkan sistem kelompok dibuat untuk menerangkan hubungan dua orang dengan beberapa batasan:
1) Tindakan komunikatif adalah tindakan verbal (bicara) dalam situasi berhadap-hadapan (face to face).
2) Komunikasi dicetuskan dengan sengaja.
3) Tindakan komunikatif dihadiri oleh penerima.
4) A dan B adalah anggota kelompok yang terus-menerus saling berhubungan.
Simetri memiliki manfaat. Manfaat simetri ini adalah sebagai berikut:
1) Memungkinkan seseorang untuk memprediksi tingkah laku orang lain. Jika A dan B memiliki orientasi yang sama tentang X, maka A dan B dengan mudah dapat menyesuaikan orientasinya.
2) Jika A dan B memiliki sikap yang sama terhadap X, maka A dan B akan lebih yakin pada orientasinya sendiri kepada X.

2.3 Konsekuensi-konsekuensi dari Asimetri
Asimetri mengakibatkan ketegangan (tension) yang mendorong tingkah laku menuju simetri. Kadar arus menuju simetri bisa rendah dan bisa tinggi tergantung dari beberapa faktor:
1) Tingkat perbedaan sikap antara A dan B.
2) Tanda (+/-) dan tingkat atraksi A dan B.
3) Tingkat pentingnya X (objek komunikasi).
4) Keyakinan pada orientasi diri masing-masing.
5) Relevansi X terhadap sistem.
Newcomb menunjukan tujuh cara bagi A dalam mengurangi arus sistem (system strain):
1) Mengurangi kekuatan atraksinya kepada B.
2) Mengurangi relevansi X.
3) Mengurangi persepsi B tentang relevansi X.
4) Mengurangi pentingnya arti X.
5) Mengurangi persepsi B tentang pentingnya X.
6) Mengubah sikap sendiri.
7) Mengubah persepsi sendiri tentang sikap B terhadap X.
Pada tingkat hubungan interpersonal komunikasi sangat penting sekali dan akan memunculkan beberapa sifat kelompok seperti:
1) Kesamaan orientasi terhadapa objek-objek tertentu.
2) Kesamaan dalam konsensus yang dipersepsikan, yaitu semua sepakat tentang kesamaan orientasi pada butir satu di atas.
3) Atraksi antar anggota, yaitu keadaan yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan dinamika kelompok itu.

3. Prinsip Keselarasan (congruity)
Teori ini adalah mengenai perubahan prediksi sikap dalam suatu situasi eksperimental tertentu. Dalam situasi eksperimental tersebut, suatu sumber yang dikenal, melalui komunikasi, mendasak seseorang (subjek) untuk mengambil sikap tertentu terhadap suatu objek.
Teori Osgood & Tannenbaum (1955) ini lebih terperinci dan lebih mampu memprediksi perubahan sikap, baik terhadap sumber komunikasi maupun terhdap objek, akan tetapi ragamnya perilaku yang dapat dicakup oleh teori ini lebih terbatas daripada teori P-O-X atau A-B-X.

3.1 Asumsi-asumsi Dasar
Teori keselarasan berawal dan berkembang dari penelitian tentang arti berbagai konsep. Dalam penelitian itu diasumsikan bahwa konotasi (arti yang tersirat) dari sebuah kata dapat ditetapkan letaknya pada suatu spektrum bipolar (dua) kutub yang terbagi-bagi dalam suatu skala menarik. Skala itu disebut skala diferensial semantik yang bentuknya sebagai berikut:
baik : : : : : : : : : : : buruk .
Asumsi dasar ke dua adalah bahwa kerangka penilaian seseorang cenderung ke arah penyederhadanaan yang maksimal. Asumsi ini berkaitan dengan dua asumsi lainnya, yaitu:
1) Ada kecenderungan bahwa objek-objek dipandang baik sama sekali atau buruk sama sekali.
2) Objek-objek yang dipandang baik, berapapun tingkat kebaikannya dipandang sebagai sama atau serupa, sedangkan objek-objek yang dipandang jelek batas tertentu akan digolongkan sebagai satu kelompok.

3.2 Prinsip Keselarasan
Osgood dan Tanenbaum menyatakan bahwa dalam prinsip keselarasan (congruity principle) perubahan penilaian selalu tertuju pada keselarasan yang makin meningkat terhadap kerangka acuan orang yang bersangkutan. Jadi, jika ada dua atau lebih objek sikap yang saling dihubungkan dengan satu pertanyaan, maka timbul kecenderungan bahwa perilaku terhadap salah satu atau semua objek itu akan berubah sedemikian rupa sehingga semua penilaian itu jadi sama. Misalnya: Kepala Sekolah (evaluasi positif) memberi penghargaan (hubungan pernyataan) kepada Rudy si jago berkelahi (evaluasi negatif). Pernyataan itu akan menjadikan dua kemungkinan. Pertama, orang akan mengurangi evaluasi positif terhadap guru. Kedua, sebaliknya orang akan memberi penilaian positif terhadap Rudy.
Dalam mengamalkan prinsip keselarasan ini dalam situasi-situasi khusus, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Masalah keselarasan.
b. Arah Perubahan menuju keselarasan.
c. Beban tekanan yang ditimbulkan oleh ketidakselarasan dan penyebaran beban tersebut di antara objek- objek sikap.



3.2.1 Masalah Keselarasan
Masalah keselarasan hanya timbul jika dua objek atau lebih saling dihubungkan dengan suatu pertanyaan. Selama objek-objek itu tidak saling berkait orang bisa saja mempunyai sikap bermacam- bermacam terhadap berbagai objek itu tanpa ada tekanan untuk berubah. Dengan perkataan lain: tidak timbul masalah keselarasan.
Osgood & Tannenbaum tidak memberi definisi yang jelas tentang arti pernyataan (assertion). Tetapi mereka mengklarifikasi pernyataan dalam beberapa jenis:
1) Berdasarkan sederhana atau rumitnya pertanyaan:
a. Pernyataan deskriptif, yaitu pernyataan yang paling sederhana. Contoh : ”kesenian daerah adalah menarik”. Pernyataan ini dapat menimbulkan tekanan untuk perubahan jika ada perbedaan penilaian di antara bagian-bagian dari pernyataan tersebut. Misalnya manakala “kesenian daerah” dinilai negatif, sedangkan ”menarik” dinilai positif.
b. Pernyataan klarifikasi, misalnya : ”Tuan Anwar adalah anggota parlemen”. Jika tuan Anwar dinilai negatif sedangkan “anggota parlemen” dinilai positif, dapat pula menjadi tekanan. Pernyataan klarifikasi ini bisa rumit jika suatu sumber membuat pernyataan tentang suatu objek, misalnya : “Pimpinan Universitas menolak diberlakukannya hak-hak mahasiswa”.
2) Berdasarkan sifat pernyataan :
a. Pernyataan asosiatif (positif), misalnya : “Joko sayang pada Ria”.
b. Pernyataan disasosiatif (negatif), misalnya : “Iwan bukan anak pandai”.
Pernyataan juga mencerminkan sikap terhadap suatu objek. Sikap dapat positif, negatif atau netral. Dalam hubungan inilah dapat timbul masalah keselarasan. Jika sikap terhadap sumber dan objek sikap sama-sama ekstrim (dekat pada ujung skala positif atau negatif), maka arah dari ke dua ekstrim itu akan menentukan apakah akan terjadi keselarasan atau tidak keselarasan. Sumber yang kita nilai positif akan mendukung objek yang kita sukai. Sedangkan sumber yang dinilai negatif akan menyerang objek yang kita sukai. Dalam hal ini terjadi keselarasan. Jika hal ini tidak terjadi, maka timbul ketidak selarasan (incongruence). Misalnya: jika Pimpinan Universitas (postif) mendukung kebebasan mimbar (positif), maka terjadi keselarasan. Sebaliknya, jika Pimpinan Universitas (positif) menentang kebebasan mimbar (negatif), maka terjadi ketidakselarasan.

3.2.2 Arah Perubahan
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, Osgood & Tannenbaum mengemukakan prinsip-prinsip keselarasan sebagai berikut: “Manakala objek penilaian diasosiasikan dengan objek yang lain melalui sebuah pernyataan, maka posisi keselarasan objek itu pada skala penilaian selalu pada derajat polarisasi yang sama dengan objek yang satu lagi, baik dalam arah yang sama (positif) maupun dalam arah yang berbeda (negatif)”. Misalanya: Dua objek sikap (OS1 dan OS2) sama-sama dinilai pada skala penilaian. Jika OS1 dan OS2 dihubungkan secara positif, maka posisi penilaian OS2 pada arah yang sama. Tetapi jika OS1 dan OS2 dihubungkan secara negatif, maka posisi penilaian OS1 sama dengan OS2, hanya saja dalam arah yang berlawanan penyimpangan dari ini adalah keadaan tidak selaras (incongruence).



3.2.3 Kadar Penyebaran Tekanan
Dari prinsip yang pertama di atas, prinsip kedua yang diajukan Osgood dan Tannenbaum adalah: jumlah tekanan (P) untuk mengubah penilaian terhadap objek sikap maupun sumbernya adalah sama dengan selisih antara skor polarisasi dan titik keselarsan maksimal. Contoh: sumber dan objek dihubungkan dengan pernyataan positif. Jika ini polarisasi awal dari sumber adalah +3 dan nilai polarisasi awal dari obyek adalah +1, maka jumlah tekanan untuk mengubah penilaian terhadap objek adalah 2. Jika penilaian diubah dengan menambah penilaian +2, maka terjadilah keselarasan. Sebaliknya, tekanan untuk mengubah penilaian terhadap sumber adalah -2. Prinsip ketiga adalah bahwa sikap yang mendalam (intense) lebih sukar berubah daripada sikap yang kurang mendalam. Prinsip ketiga ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
PsosX ds Pos, dan
dos+ds
PSs= dos Ps
ds+dos
Di mana: PS adalah perubahan sikap:
Psos : terhadap objek sikap
Pss : terhadap sumber
d adalah nilai polarasi
dos : terhadap objek sikap
ds : terhadap sumber
P adalah jumlah tekanan
Pos : terhadap objek sikap
Ps : terhadap sumber



3.3 Kesimpulan dari Prinsip Keselarasan
1) Perubahan penilaian terhadap dua objek yang dihubungkan dengan suatu pernyataan selalu mengarah pada keseimbangan yaitu: jika kedua objek itu dinilai jauh berbeda (polarisasi), maka perbedaan penilaian itu dikurangi.
2) Pada penilaian tingkat tekanan tertentu ke arah keselarasan, lebih mudah terjadi perubahan perbedaan penilaian (polarisasi) yang makin besar daripada ke arah berkurang polarisasi.
3) Derajat perubahan sikap merupakan fungsi kebalikan dari intensitas sikap awal terhadap objek. Sikap yang lemah, derajat perubahan sikapnya besar; sedangkan sikap awal yang kuat, derajat perubahan sikap yang dapat terjadi hanya kecil saja.
4) Perubahan sikap terhadap objek (atau sumber) merupakan fungsi langsung (linier) dari derajat sikap awal terhadap sumber (atau objek). Jadi, jika si A suka pada B, maka perubahan sikap saya terhadap dipengaruhi langsung oleh sikap awal saya pada A, sebaliknya perubahan sikap saya terhadap A, merupakan fungsi linier dari sikap awal saya terhadap B. Kalau saya suka pada A, maka saya akan lebih menyukai B. Sebaliknya, sikap positif saya pada A juga akan berkurang.
5) Jika dua subjek yang neo-netral, dinilai berbeda, tapi dihubungkan dengan pernyataan yang selaras, maka objek yang dinilainya lebih tinggi, akan berkurang nilainya. Misalnya: dosen (+3) suka main karambol (+1). Dengan pernyataan ini gengsi dosen menurun sedikit, sedangkan permainan karambol justru meningkat.

4. Teori Disonansi Kognitif
Teori disonansi kognitif dari Festinger tidak jauh berbeda dari teori-teori konsistensi kognitif lainnya, tetapi ada dua perbedaan yang mesti dicatat:
1) Teori ini adalah tentang tingkah laku umum, jadi tidak khusus tentang tingkah laku sosial.
2) Walaupun demikian, pengaruhnya terhadap penelitian-penelitian psikologi sosial jauh lebih menyolok daripada teori-teori konsistensi yang lain.
Inti dari teori disonansi kognitif ini sebenarnya sederhana saja: antara elemen-elemen kognitif mungkin terjadi hubungan-hubungan yang tidak pas (nontiffing relations) yang menimbulkan disonansi (kejanggalan) kognitif, disonansi menimbulkan desakan untuk mengurangi disonansi tersebut dan menghindari peningkatannya, hasil dari desakan tersebut terwujud dalam perubahan-perubahan pada kognisi, perubahan tingkah laku dan menghadapkan diri pada beberapa informasi dan pendapat-pendapat baru yang sudah diseleksi terlebih dahulu.

4.1 Definisi Disonansi
Elemen adalah kognisi, yaitu hal-hal yang diketahui seseorang tentang dirinya sendiri, tingkah lakunya dan lingkungannya. Istilah kognisi sendiri digunakan untuk menunjuk kepada setiap pengetahuan, pendapat, keyakinan atau perasaan seseorang tentang dirinya sendiri atau lingkungannya. Faktor yang paling menentukan elemen-elemen kognitif adalah kenyataan (realitas). Sedangkan elemen kognitif sendiri berhubungan dengan hal-hal yang nyata ada di lingkungan dan hal-hal yang terdapat dalam dunia kejiwaan seseorang. Hubungan dibedakan menjadi tiga jenis: tidak relevan, disonan dan konsonan. Hubungan yang tidak relevan misalnya: orang tahu bahwa setiap musim hujan Jakarta kebanjiran dan ia pun tahu bahwa di Indocina tentara Vietnam masuk ke wilayah Kamboja. Kedua pengetahuan tersebut tidak saling berkaitan dan tidak saling mempengaruhi karena disebut tidak relevan. Hubungan dua elemen kognitif yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi disebut hubungan yang relevan. Ada dua hubungan yang relevan yaitu: hubungan yang disonan dan hubungan yang konsonan. Disonansi dedefinisikan sebagai berikut: dua elemen dikatakan ada dalam hubungan yang disonan jika (dengan hanya memperhatikan dua elemen itu saja) terjadi penyangkalan dari satu elemen yang diikuti oleh atau mengikuti suatu elemen yang lain. Contoh jika seseorang berdiri di hujan seharusnya dia kebasahan. Tetapi kalau orang yang berdiri di hujan (satu elemen) tidak basah (pengangkatan elemen kedua), maka terjadilah hubungan disonan. Konotasi adalah terjadinya hubungan yang relevan antara dua elemen dan hubungan itu tidak disonan. Jadi: Jika satu elemen kognisi diikuti oleh elemen lain. Misalnya: orang berdiri di hujan (elemen pertama) dan basah (elemen kedua).
Menurut Festinger disonansi dapat terjadi dari beberapa sumber:
1) Inkonsistensi logis, contoh: keyakinan bahwa air membeku pada 0oC, secara logis tidak konsisten dengan keyakinan bahwa es balok tidak akan mencair pada 400C.
2) Nilai-nilai budaya (cultural mores), kebudayaan sering kali menentukan apa yang disonan dan apa yang konsonan. Contoh: Makan dengan tangan dalam pesta resmi di Eropa menimbulkan disonansi, tetapi makan dengan tangan di warung di Jakarta dirasakan sebagai konsonan.
3) Pendapat umum, Disonansi dapat terjadi karena suatu pendapat yang dianut oleh orang banyak dipaksakan kepada pendapat perorangan. Misalnya: seorang remaja yang senang menyanyi lagu keroncong. Hal ini menimbulkan disonansi karena pendapat umum percaya bahwa keroncong itu adalah lagunya orang tua.
4) Pengalaman masa lalu, contoh: berdiri di hujan, tetapi tidak basah. Keadaan ini disonan karena tidak sesuai dengan pengalaman masa lalu.

4.2 Ukuran Disonansi
Hubungan disonan tidak semua sama kadarnya. Karena itu Festinger mengemukakan perlu diketahuinya faktor-faktor yang menentukan kadar disonansi itu. Faktor yang pertama adalah tingkat kepentingan elemen-elemen yang saling berhubungan bagi orang yang bersangkutan. Jika kedua elemen itu kurang penting artinya bagi orang yang bersangkutan, maka tidak banyak disonansi yang akan timbul. Sebaliknya jika kedua elemen itu sangat penting artinya bagi orang yang bersangkutan, maka disonansi juga akan tinggi.
Tetapi dalam kenyataanya tidak pernah ada hanya melibatkan dua elemen. Masing-masing elemen dari yang dua itu dihubungkan juga dengan elemen-elemen lain yang relevan. Sebagian hubungan-hubungan yang lain ini konsonan, sedangkan sebagian lainnya disonan. Menurut Festinger, hampir-hampir tidak pernah terjadi tidak ada disonan sama sekali dalam hubungan–hubungan yang terjadi antar sekelompok elemen. Karena itu kadar disonan dalam hubungan dua elemen, dipengaruhi juga oleh jumlah disonansi yang ditimbulkan oleh keseluruhan hubungan kedua elemen itu dengan elemen-elemen lain yang relevan. Namun Festinger sendiri tidak menujukkan bagaimana cara untuk menetapkan kadar kepentingan dan relevansi di atas.
Tingkatan disonansi yang maksimum adalah sama dengan jumlah daya tolak dari elemen yang paling lemah. Jika disonansi maksimum tercapai, maka elemen yang paling lemah akan berubah dan disonansi akan berkurang. Tentu saja ada kemungkinan bahwa perubahan elemen yang lemah itu akan menambah disonansi pada hubungan-hubungan yang lain dalam kumpulan elemen-elemen kognitif yang bersangkutan. Dalam hal ini maka perubahan pada elemen yang lemah tersebut tidak jadi terlaksana.

4.3 Konsekuensi-konsekuensi Disonansi
1) Pengurangan disonansi melalui tiga kemungkinan:
a. Mengubah elemen tingkah laku. Misalnya: seseorang gadis membeli baju baru yang mahal ketika baju ini dipakainya ke sekolah, seorang temannya mengatakan baju itu “norak” (kampungan). Untuk menghilangkan disonansi, maka gadis itu bisa menjual lagi baju tersebut atau menghadiahkan kepada orang lain (mengubah elemen tingkah laku).
b. Mengubah elemen kognitif lingkungan: misalnya, gadis itu meyakinkan temannya bahwa baju tersebut tidak “norak” dan justru sedang menjadi mode yang top masa kini.
c. Menambah elemen kognitif baru: misalnya, mencari pendapat teman lain yang mendukung pendapat bahwa baju tersebut bagus dan tidak “norak”.
Namun teori ini tidak memberikan cara untuk memperkirakan kemungkinan mana yang akan ditempuh untuk mengurangi disonansi dalam keadaan tertentu.
2) Penghindaran Disonansi
Adanya disonansi selalu menimbulkan dorongan untuk menghindari disonansi tersebut. Dalam hubungan ini caranya adalah dengan menambah informasi baru yang diharapkan dapat menambah dukungan terhadap pendapat orang yang bersangkutan atau menambah perbendaharaan elemen kognitif dalam diri orang yang bersangkutan. Penambahan elemen baru ini harus sangat efektif, yaitu hanya mencarinya pada orang-orang yang diperkirakan dapat memberi dukungan dan menghindari orang-orang yang pandangannya berbeda. Demikianlah caranya disonansi dihindarkan.

4.4 Dampak Teori
Teori Festinger ini mempunyai pengaruh terhadap berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari. Dampak tersebut antara lain terlihat dalam:
1) Pembuatan keputusan : keputusan dibuat berdasarkan situasi konflik. Alternatif-alternatif dalam situasi konflik itu bisa positif semua, bisa negatif semua bisa sama-sama mempunyai unsur positif dan negatif. Dalam ketiga situasi tersebut, keputusan apapun yang akan dibuat akan menimbulkan disonansi yaitu: terjadi gangguan terhadap hubungan dengan elemen (alternatif) yang tidak terpilih. Kadar disonansi setelah pembuatan suatu keputusan tergantung pada pentingnya keputusan itu dan kemenarikan alternatif yang tidak terpilih. Mengenai suatu keputusan biasanya terjadi hal-hal sebagai berikut:
a. akan terjadi peningkatan pencarian informasi-informasi baru yang menghasilkan elemen kognitif yang mendukung (konsonan dengan) keputusan yang telah dibuat.
b. Menimbulkan kepercayaan yang makin mantap tentang keputusan yang sudah dibuat atau timbul pandangan yang makin tegas membedakan kemenarikan alternatif yang telah diputuskan dari pada alternatif-alternatif lainnya. Atau juga bisa dua kemungkinan itu terjadi bersama-sama.
c. Makin sukar untuk mengubah arah keputusan yang sudah dibuat terutama pada keputusan-keputusan yang sudah mengurangi banyak disonansi.
2) Paksaan untuk mengalah: dalam situasi-situasi publik (ditengah-tengah orang banyak), seseorang dapat dipaksakan untuk melakukan sesuatu (dengan ancaman hukuman ataupun menjanjikan hadiah). Jika perbuatan itu tidak sesuai dengan yang dikehendakinya sendiri (sebagai pribadi), maka timbul disonansi. Kadar disonansi itu tergantung pada penting atau tidaknya pendapat pribadi tersebut dan besarnya ancaman hukuman atau ganjaran yang akan diterima.
3) Ekspose pada informasi-informasi. Disonansi akan mendorong pencarian informasi baru. Jika disonansi hanya sedikit, atau tidak ada sama sekali, maka usaha untuk mencari informasi baru juga tidak ada. Kalau kadar disonansi pada taraf menengah (tidak rendah dan tidak tinggi), maka usaha pencarian informasi baru akan mencapai taraf maksimal. Dalam hal ini orang yang bersangkutan dihadapkan (eskpose) pada sejumlah besar informasi-informasi baru. Tetapi jika kadar disonansi maskimal, justru usaha untuk mencari informasi baru akan sangat berkurang, karena pada tahap ini akan terjadi perubahan elemen kognitif.
4) Dukungan sosial. Jika seseorang (misal A) tahu bahwa pendapatnya berbeda dari orang-orang lain, maka timbullah apa yang disebut “kekurangan dukungan sosial” (lack social support).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar